Masyarakat Sasak pada dasarnya
sangat menjunjung tinggi kebudayaan
lokal sebagai sebuah warisan budaya dari para leluhur. Namun, tidak jarang
budaya lokal semakin terbawa arus oleh zaman dikarenakan generasi muda yang
lebih condong terhadap budaya-budaya asing yang baru.meneurut penuturan Bapak Murahim,
S.Pd., M.Pd. Salah satu dosen pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram, mengatakan bahwa sejarah telah dibolak-balik,
diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa-penguasa. Dengan demikian ini menjadi
alasan beliau dan kawan-kawan lainnya untuk memperbaiki kondisi sejarah Sasak
yang melenceng dari arah yang sebenarnya. Akhirnya beliau dan kawan-kawan sepakat
menemui para tokoh-tokoh budaya, tokoh-tokoh agama, dan para penguasa resmi,
untuk kemudian difasilitasi oleh majelis adat Sasak. Kemudian disepakatilah
untuk mengeluarkan Manifesto kebudayaan yang menyatakan, bagaimana jika kita
melindungi sesuatu yang benar. Selanjutnya manifesto tersebut dibicarakan lagi
sehingga beberapa tokoh beranggapan
bahwa kata manifesto tidak cocok dengan budaya Sasak. Sehingga terbentuklah Piagam Gumi Sasak dengan tujuan untuk
membangkitkan kembali dan menunjukkan jati diri masyarakat Sasak. Dengan menunjukkan
corak dan ragam peradabannya, budayanya dan adat-istiadatnya.
Isi
piagam
PIAGAM
GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Menjadi
bangasa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT,
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan
matarantai sejarah kemanusiaan, melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Symbol-symbol yang
diletakkan itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju
jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai
bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keleluhuran budaya Sasak.
Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai
pembohongan sejarah denngan berbagai kepentingan para penguasa yang telah
berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang
ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern.
Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak
di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya
sebagai bangsa.
Sadar
akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK
sebagai berikut:
Petama : Berjuang bersaa menggali dan menegakkn
jati diri bangsa sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya sasak.
Kedua : Berjuang bersama memelihara, menjaga
dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa sasak agar terpelihara kemurnian
kebenarannya, kepatutannya, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya sasak
Ketiga : Berjuang bersama menegakkan harkat dan
martabat bangsa sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa yang
maju dan menjunjung tinggi niali religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat : Berjuang bersama membangun citra
sejati bangsa sasak baru dengan kejatidirian yang kuat utnuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima : Berjuang bersama dalam satu tatanan
masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga
allah senang tiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa sasak
menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram,
14 Mulut tahun Jemawal 1437/H
26 Desember 2015
Ditandatangani Oleh.
1. Drs.
Lalu Azhar
2. Drs.
Haji Lalu Mujtahid
3. Drs.
Lalu Bayu Windia, M.si
4. TGH.
Ahyar Abduh
5. Drs.
Haji Husni Mu’adz MA., Ph.D
6. Dr.
Muhammad Fajri, M.A
7. Dr.
Jamaludin, M. Ag
8. Dr.
Lalu Abd. Kholik, M.Hum
9. Drs.
H. A. M uhit Ellepaki, M. Hum
10. Dr.
H. Sudirman, M.Pd
11. Dr.
H. L., Agus Fathurraman
12. Mudzirin
13. L.
Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd
Peristiwa
ini merupakan salah satu bentuk dari gerakan kebudayaan untuk menentukan sikap
serta ketegasan suku Sasak untuk menjaga agar informasi-infoemasi tentang
budaya tidak disalah gunakkan oleh orang-orng yang memiliki kepentingan di atas
kepentinga budaya sendiri.
